Tiap sore aku datangi satu per satu tunggul, bertanya adakah yang tersisa dari kesusahpayahan kita berdiri, sebelum mati ditebang kapak murka milik sang buta, Lalu kita pernah dibakar, digulung-gul…
untuk apa kau berharap pada waktu atau berutang pada masa lalu, mengemis masa depan, sementara tubuhmu, tak pernah pindah dari kini, detik ini, semua ilusi ini, jam sesungguhnya cara-cara moyang kita…